Kacang Lupa Kulit

Ada satu peribahasa “kacang lupa kulitnya.” Ini biasanya buat kacang yang sudah sukses jadi garuda kacang rosta tapi lupa asal-usulnya

Aku jadi kepikiran, kenapa harus kacang lupa kulitnya? Kenapa bukan kacang lupa sama petaninya? Kulitnya dari awal nempel terus, sedangkan petaninya mungkin udah nanam yang lain, atau malah jadi photographer dan mungkin juga kacangnya sendiri belum tentu tahu petaninya siapa..

Lagipula kenapa kacang ya? Jagung juga punya kulit, pisang malah punya kulit yang lebih jelas. Pisang kalau lupa kulitnya malah repot, ibaratnya tuh ke mana-mana gak pake pakaian.
Bayangin kacang dan kulitnya udah lama bersama, tapi pas ketemu lagi malah kayak dua orang yang sudah lama kenal tapi asing.
Kacang: Eh, kita pernah ketemu, ya?
Kulit: Kayaknya
padahal mereka tumbuh bersama... sampai sini aku nulisnya udah sakit kepala, ini aja udah kepikiran, kenapa ya garuk kepala pakai garpu rasanya beda?


Kebetulan juga lagi nanam kacang tanah, kalau kacang hijau masih rencana, kadang tetap jadi rencana sampai 2027 tetap rencana, lagian kemarau gini males harus rutin nyiram. nahh kan lebih masuk akal kacang lupa petaninya. nyiram doang males.

Blokir

Semakin heran sama lembaga yang hobinya gembok aplikasi. Ada oknum yang berulah, ehh seserver-servernya dihukum. Kayak Discord atau aplikasi lainnya, padahal discord atau telegram buatku cuma tempat rapat PBB (Persatuan Beban Bumi) atau server keluh kesah WNI yang isi tabungannya kalah banyak sama sisa saldo anak SMA, tapi malah dianggap beresiko seolah itu tuh markas rahasia invasi Alien. Besok-besok kalau mau mabar kayaknya beneran dipaksa ngirim sinyal asap atau sewa burung elang buat ngirim surat.

Google Maps bentar lagi juga bisa-bisa dicap ancaman cuma gara-gara ada orang nyasar ke tengah kuburan jam 1 malam, padahal dianya aja yang buta arah. Enggak kebayang sih kalau beneran di blokir, masa iya ke mana-mana disuruh bawa peta gulung ala pendekar Majapahit? terus sebelum OTW ngerapal mantra dulu depan baskom.

Ujung-ujungnya, kalau semua aplikasi udah musnah, di HP cuma sisa kalkulator sama senter bawaan. Itu pun senternya bentar lagi bakal ikut diblokir gara-gara cahayanya dianggap ngasih sinyal pendaratan buat UFO.
Semakin kesini, semakin aneh, lama kelamaan, lama banget benernya.

Kenapa menyala?

Mau jogging pagi-pagi bukannya nyium aroma embun segar, malah nyium bau kayu bakar. Langit yang tadinya biru mendadak berubah warna jadi kuning-oranye ala-ala filter film kiamat.

Ini kebakaran bukan gara-gara cuaca panas doang kayaknya. Jangan-jangan akar pohon di dalam tanah sebenarnya kagak terbakar sendiri, tapi emang sengaja disiram pertalite dari bawah tanah biar makin "menyala abangkuu" (emot api 4 biji). Mau padam gimana coba kalau tim pemadamnya di atas nyiram air, tapi akar di bawah tanah malah disuplai bahan bakar?

Akhirnya cuma bisa pasrah sambil nyiapin amunisi. Masker yang tadinya simpanan lama, sekarang terpaksa dipakai lagi biar paru-paru kagak kemasukan aroma sate tanpa bentuk. Mau marahin asapnya, dia kagak punya telinga. Mau nyalahin angin, dia cuma menjalankan tugasnya membawa bau sangit ke mana-mana.
Aku anggap aja lagi main simulasi game survival, sambil berdo'a biar mata kagak perih-perih amat pas jalan ke warung.

Sebenarnya Gimana Sih?

Keluar rumah jam 2 siang rasanya kayak matahari lagi dikasih satu orang satu, Padahal dari Sabang sampai Merauke, Indonesia kan gudangnya pawang hujan sama pengendali elemen. Tapi kenapa mendung aja pelitnya setengah mati?

Dugaanku sih, para pawang ini lagi pada bentrokan frekuensi. Di RT 01 ada pawang lagi dibooking buat nyiram sawah, ehh di RT 02 ada pawang lain disuruh geser awan gara-gara ada nikahan outdoor.

Dua energi magis itu akhirnya tabrakan di udara, bikin awannya bingung terus milih balik arah.
Kayaknya si Avatar juga manusia biasa yang nggak tahan panas. Menurutnya daripada maksain ngeluarin air dari awan yang belum tentu berhasil, dia milih mundur secara sepihak ke kamar buat rebahan di depan kipas sambil nonton dracin CEO Kaya bertemu Pawang hujan.

Sekarang ngadem di depan kipas angin nomor tiga sampai kipasnya yang gantian keluar keringat.

Ya udah

Pada akhirnya, hidup itu ya balik lagi seperti yang sudah-sudah. Kalau dia udah nemu orang yang bikin dia bahagia, sekalipun pilihan konsep bahagianya agak di luar nurul menurut versiku dan meskipun Aku udah kenal lama banget tapi kalau orang yang kenal baru bisa lebih membahagiakan dia, ya udah, case closed.

Waktu tahu itu, rasanya bukan patah hati, tapi kayak kekenyangan habis makan mie ayam dua mangkok, mangkok Thanos, terus bingung mau ngapain lagi. Ya sudah lah ya, mau lari sore juga gak mungkin kalau perut lagi  penuh.

Lagian, ngapain juga pusing-pusing mikirin kenapa dia milih orang lain? Selera orang kan beda-beda. Ada yang suka kopi hitam, ada yang suka matcha, ada juga yang sukanya pesen air putih tapi minta es batunya dipisah. Bebas, suka-suka mereka.

Sekarang bukan lagi mantengin storynya atau mikirin "gimana kalau..." Sekarang jauh lebih krusial, menentukan menu makan seminggu kedepan dan bahwasanya perlu menabung buat ngerakit PC yang setara  vespa itu_-

Seperti biasanya, 2-3 hari akan terasa berat sehabis itu pasti ingat aja udah males, so it goes dan enggak perlu nyalahin siapa-siapa, karena pepatah mengatakan semakin naik nilai tukar Dolar maka semakin naik pula harga komponen PC.

Shift malam

Kafe di malam hari adalah tempat manusia memerankan versi terbaik dari dirinya, atau setidaknya versi yang masih bisa dipertahanin  sampai besok pagi. Dari meja ke meja, ada cerita, ada asap Vape, dan ada barista yang diam-diam menilai pilihan minuman.
Karena kalau kamu pesan matcha jam sepuluh malam, jujur aja, kamu mungkin sedang ada sesuatu.
ditolak? ditinggal? atau... kalah main poker? kalau itu sih pengalaman yang lagi nulis..

Shift malam di kafe bukan sekadar kerja. Ini riset sosial dengan bayaran minim. Di sini, manusia menumpahkan segala bentuk keanehan yang bahkan psikolog mungkin malas menganalisis. Kalau kamu pikir pelanggan cuma datang buat ngopi, kamu jelas belum menginjak lantai kafe jam sebelas malam.
Mari bahas spesies-spesies pelanggan yang menghiasi malam hari.


Si filosof

Dia pesan espresso single shot, lalu menatap cangkirnya seperti menatap masa lalu. Kalau kamu iseng tanya “kopinya enak?”, dia jawab, “hidup itu pahit, tapi setidaknya masih bisa dinikmati.” Biasanya pakai tote bag bertuliskan “support local artist” tapi belum pernah beli karya siapa pun.


Pasangan soft-launching

Duduk berdua di pojok, suara mereka lebih pelan dari playlist lo-fi yang bahkan Spotify sudah bosan memutar.. Mereka saling tatap penuh kode, tapi kalau ditanya “mau dijadiin satu?”, langsung jawab serentak, “sendiri aja.” Tanda-tanda hubungan yang belum siap dideklarasikan ke publik, apalagi ke kasir.


Si pura-pura sibuk

Laptopnya buka sejak maghrib, colokan jadi hak milik pribadi. Sering ngetik cepat, padahal cuma ganti font di Canva. Kalau ditanya “masih ada pesanan?”, jawabnya, “nanti, lagi revisi klien.” Kliennya entah siapa, tapi deadline-nya tampaknya sudah lewat tiga reinkarnasi.


Pelanggan Misterius

Datang jam 10 malam. Hoodie hitam. Pesan iced americano tanpa senyum. Ngetik di HP cepat banget, kayak sedang negosiasi perdamaian dunia. Setelah sejam, hilang begitu saja tanpa jejak, kecuali bungkus rokok yang entah kenapa ditinggal di meja.


“Nunggu Teman”

Pesan Matcha dan air putih. Duduk. Scroll HP. “Temenku bentar lagi datang,” katanya. Sudah tiga kali refill air, dua shift berlalu, dan temannya itu sebenarnya tidak pernah datang sejak 2019. Biarlah mungkin menyendiri adalah jalan ninja-nya.
Menjelang tengah malam, kafe mulai sepi. Tinggal bunyi mesin espresso dan lampu gantung yang berjuang melawan ngantuk. Aku pikir, mungkin kopi bukan alasan orang datang. Mungkin karena semua orang bisa pura-pura tahu apa yang mereka cari ditempat ini.

Penonton Film Horor

Ada dua jenis manusia di dunia ini. mereka yang menonton film horor dengan tenang sambil makan popcorn dan ada mereka yang menonton film horor seperti sedang ikut uji nyali tapi lebih banyak menatap jari sendiri daripada layar.

Dia rela keluar uang, antre, duduk di kursi gelap, hanya untuk kemudian kehilangan 70% pengalaman yang dia beli. Begitu suara musik mulai “deng... deng... deng...” mendadak seluruh tubuhnya berubah jadi siput, menyusut ke dalam hoodie, tangan jadi perisai Viking, mata cuma terbuka 15%.

Dan kalau ditanya kenapa nutup mata? Jawabannya. “Takut, tapi ingin tahu.”
Luar biasa bjirr  
Otaknya benar-benar bisa menjalankan dua perintah kontradiktif sekaligus. tolak rasa takut, tapi jangan hilangkan rasa penasaran...

Menonton film horor sambil nutup mata itu seperti pesan nasi goreng tapi minta jangan digoreng. Atau pergi ke gym hanya untuk foto di depan cerminnya. tidak benar-benar ingin pengalamannya tapi hanya untuk bilang, “Aku berani kok nonton horor.”

Sementara itu, orang yang duduk di sebelah mereka biasanya menanggung dua trauma. satu dari filmnya, satu lagi dari tangan temannya yang mencengkram seperti mau menyalurkan listrik tegangan tinggi.

Dia tahu akan ketakutannya, tapi selalu memberanikan diri walau tidak mendapatkan makna dari film-nya. Ironis, tidak logis. entahlah...

© 2013-. Artsepz All Rights Reserved.