Lagi Leveling

Grinding adalah kebiasan para pemain games RPG yang entah kenapa rela membantai 4.000 slime demi naik satu level. Kalau alien datang ke bumi dan melihatmu duduk lima jam di kamarmu demi “exp +12”, mereka mungkin akan pulang lagi.

Bayangkan ini. Karaktermu, pahlawan terpilih dari nubuat kuno, sedang ditugasi menyelamatkan dunia dari kegelapan.
Tapi apa yang Kamu lakukan? Memusnah kan ayam liar di hutan selama dua minggu, supaya bisa memakai sepatu yang statistiknya naik +3 agility. Dunia hampir kiamat, tapi kamu sibuk memukul kelelawar karena drop rate-nya 0,5%.

Lalu ada NPC yang berdiri di tempat yang sama sejak 2008, cuma buat bilang...

“Kumpulkan 10 tanduk babi untukku, wahai petualang.”

Kau tahu apa yang paling gila?
Kau melakukannya.
Tanpa tanya kenapa.
Tanpa upah layak.
Tanpa jaminan kerja.
Dan saat akhirnya kamu naik level....

“Selamat! Kini musuh-mu juga lebih kuat.”

Bangke! Dunia digital pun punya sistem ekonomi yang menindas. kayak......
Grinding itu semacam parodi kehidupan. kerja keras tanpa tidur, janji imbalan besar, dan ketika sudah dapat, kamu langsung cari quest baru karena entah kenapa, penderitaan itu menghasilkan pc 24jt. maunya...

Why ?

Engga ada alasan untuk menghapus postingan artikel yang dulu-dulu, lagian tokoh-tokohnya udah pada dewasa, ada yang sudah punya 2 anak,
Makanya postingan yang dulu Aku kembalikan ke draft, takutnya hal-hal konyol masa Remaja kurang bijaksa itu  bisa jadi aib untuk masa yang sekarang, bukan buatku tapi orang-orangnya, kalau aku sendiri gak terlalu peduli apa yang terjadi di masa lalu.


Karena Dulu menulis berdasarkan apa yang terjadi hari itu juga seperti Kegiatan Anak SMA yang sekolah hampir seperti jalan-jalan, lebih tepatnya catatan harian pelajar langganan ruang BK.

Kerja kelompok katanya


Hendri bagian nyengir doang kayaknya..


Ini kelompok jamu buyung upik kalau gak salah


Kelompknya Dhani enggak pake pedrosa, tapi pake sapu


Rangga AADHA sih ini







Absurdism

Setiap penderitaan adalah penderitaan yang aku secara sadar jalani sehari-hari, bukan sebuah penderitaan yang jalan dengan sendirinya.

Aku masih hidup. Inilah sebabnya mengapa kemenangan terasa manis dan kekalahan terasa pahit, sebab kemenangan maupun kekalahan merupakan hasil dari kerja keras kita dan memiliki nama kita sebagai meterai diatasnya. 

Inilah juga sebabnya mengapa kita tidak akan jatuh kedalam nihilisme, sebab pada akhirnya kita tetap ingin berjuang, dan merasa bahwa ada sesuatu yang layak untuk dipertahankan, entah itu keluarga kita, pasangan kita, atau kebahagiaan kecil yang selama ini kita miliki. Kita adalah tuan dari hidup kita sendiri.

Albert Camus

© 2013-. Artsepz All Rights Reserved.